SATU MALAM KITA
Created by. Alin Maulani
Aku
kembali termenung. Langit senja kini terlihat bagai panorama yang sulit
dilukiskan. Guratan cahaya mentari yang bersiap kembali ke peraduannya
menuntunku pada kenangan yang akan aku ciptakan di sini. Aku belum juga beranjak
saat teman-teman menyapaku. Perasaan bersalah masih saja menghantui di sisa
soreku. Terbayang wajah-wajah kecewa saat pengumuman itu ku lontarkan, terus
saja terlintas dalam benakku. Ayolah, aku tak ingin lagi ada kekecewaan. Cukup
sudah tahun lalu ku buat kesahalan yang membuatku terus bergelayut dalam
keresahan.
Tahun
ini memang tahun terakhirku di negeri antah berantah yang jauh dari tempat
pertamaku membuka mata untuk mengenal dunia. Aku terdampar. Hingga datang
beberapa sosok makhluk yang menarik tanganku dari kesepian yang terus mengikuti
langkah kakiku. Ketika sesak itu datang, mereka memberikan ku kehangatan untuk
tetap bernafas dan menggandeng lenganku untuk terus bersama mereka. Wajar saja
di acara kali ini, aku ingin membuat sesuatu yang membuat mereka tersenyum
bahagia walaupun aku selalu tau apapun yang ku lakukan tak akan bisa
menggantikan setiap waktu yang mereka berikan.
Hari
mulai berganti. Kertas putih tanpa coretan dihadapanku kini mulai berisi
tulisan. Konsumsi dan dekorasi mungkin akan membutuhkan lebih banyak dana.
Otakku terus berputar agar nominal tidak terlalu besar dan memberatkan
teman-temanku. Rp. 20.000,00 dari 118 orang aku rasa cukup untuk membuat acara
ini menjadi acara yang tak semegah Prom
Night di sekolah-sekolah luar, cukup untuk satu malam yang akan ku buat tak
akan terlupakan.
Berkali-kali
aku dan beberapa temanku yang ditugaskan mempersiapkan acara ini berkumpul.
Kami mulai menyusun acara. Setelah perdebatan panjang lebar, akhirnya kami
mempersiapkan acara yang sederhana. Dimulai dengan membaca surat Yasin, berdo’a
bersama, makan-makan, hingga hiburan di malam harinya. Hari sabtu adalah hari
yang pada akhirnya kami pilih.
Waktu
semakin dekat menuju hari istimewa. Teman-temanku mulai mempersiapkan diri.
Diam-diam aku selalu berdoa di akhir sujudku semoga acara ini membuat hati kami
semakin menyatu. Namun, jalan tidak selalu mulus. Perdebatan di mulai kembali.
Akram yang tadinya kami harapkan untuk datang, ternyata tidak bisa untuk hadir.
Bahkan semua sosial media yang membuat kami dapat menghubunginya tak bisa lagi
diandalkan. Begitu kecewa kedua orang tuanya hingga Akram tak diizinkan berada
di tengah-tengah kami walaupun hanya dalam satu malam. Dua hari lagi acara akan
diadakan. Semakin hari aku semakin resah memikirkan acara ini. Surat izin yang
bahkan belum ditanda tangani membuatku bertanya terus-menerus pada Dante,
mungkin kedatanganku ke kelasnya hampir setiap membuatnya terganggu. Kami
berpasrah dengan segala upaya.
Hari yang dinantikan akhirnya tiba. Setelah
hari senin lalu seluruh rakyat Indonesia merayakan hari kemerdekaan yang ke 70,
kami pun merayakannya pada hari ini. Beberapa perlombaan diadakan. Setelah
senam seperti biasanya, aku berkumpul bersama teman-teman kelasku. 12 ipa 3
untuk pembagian lomba. Aku yang pada hari itu mengenakan baju necromancer
mendapat salah satu bagian dari estafet. Aku harus berjalan dengan penutup mata
dan Kania akan menuntunku agar tidak menabrak botol-botol di hadapanku. Setelah
menghadapi beberapa tantangan, akhirnya kelasku berada di posisi kedua setelah
Nurul memecahkan balon dengan gigi berbehelnya di ronde pertama ini.
Aku
mencari Hasbi untuk memulai dekorasi ruangan malam nanti di kelasku. Kami
sengaja memilih tiga kelas yang berderet untuk serangkaian acara ulang tahun
atomic sekaligus syukuran kelas 12 ini. Kelas 12 ipa 1 akan digunakan untuk
tempat kami menyimpan segala konsumsi dan peralatab, kelas 12 ipa 2 untuk acara
yasinan dan doa bersama di sore hari, dan kelas 12 ipa 3 untuk acara pembukaan
di malam harinya.
Aku memasuki
ruang kelas bersama Nurul dan Pipos, tapi tidak ada Hasbi juga Mitha. Hanya ada
Dante dan Umar yang sedang menonton di lantai ruang kelas. Barang-barang
berserakan di lantai. Peralatan dekorasi, lilin, obor, bahkan kursi dan meja
pun tak lagi tersusun rapi. Aku memutuskan untuk mulai meniup balon bersama
Pipos, Umar, dan Dante. Sedangkan Nurul dan Mitha yang baru saja datang dan
bergabung dengan kami, mulai menulis nama-nama bagian dari Atomic di karton
yang telah kami potong semalam untuk disusun menjadi tabel periodik yang berisi
118 unsur, sama dengan jumlah Atomic.
Senja mulai
merendah. Waktu tak bisa berhenti sejenak dan membiarkan kami berlarian dengan
peluh untuk menyelesaikan dekorasi di ruangan dan lapangan. Adzan ashar sudah
berlalu sedari tadi, kami masih berkutat dengan lumuran lem dan cat air. Bahkan
diluar sana Umar, Sepur, dan Ihsan masih sibuk menyiapkan obor yang akan
digunakan malam nanti. Dante mulai sibuk menyiapkan acara sore ini. Sayup-sayup
terdengar langkah kaki keramaian, kami bergantian mengintip di jendela. Di sana
sudah berbaris kelas 12 putri dengan rapinya mengenakan baju angkatan yang
pertama kali dikenakan.
Dari dalam
ruangan, aku dan teman-temanku yang lain hanya memandang penuh haru. Ah, andai
saja kami berada di tengah-tengah mereka, dengan wajah penuh keceriaan, dan
tawa yang tak lagi getir. Tapi sayang, kami masih harus tertahan di dalam
ruangan untuk acara pembukaan dan inti malam nanti. Hanya perasaan bangga yang
kami rasakan hanya dengan melihatnya. Bahkan di acara yasinan dan doa bersama
sore ini pun pak Mashuri sedia untuk datang dan ikut menyantap makanan kantin alakadarnya
yang telah disulap menjadi nasi tumpeng oleh Mak Yun dan Ma’ruf.
Aku
baru saja akan kembali ke asrama untuk mandi dan berganti baju saat acara malam
akan segera dimulai. Kami baru saja menyelesaikan segala dekorasi termasuk
kejutan malam itu setelah anak-anak angkatan sudah berada di sana. Rasanya
hampir saja aku dan Nurul ingin menangis melihat mereka sudah datang dan kami
masih menyusun lilin kecil di rerumputan yang tadinya akan kami jadikan kejutan
setelah mereka menutup mata dan berada di lantai atas gedung ini. Hanya aku dan
Nurul yang waktu itu masih terlihat kotor dan berantakan diantara teman-teman
kami yang lain. Kami pun bergegas kembali ke asrama.
Setelah
mandi dan mengenakan pakaian yang sama dengan anak-anak atomic yang lain, aku,
Nurul, dan Iip yang ikut juga kembali ke asrama berlarian ke ruangan tempat
acaranya diadakan karena rasanya kami tak ingin tertinggal sedikitpun acara
ini. Namun, sesampainya di sana, acara sudah dimulai dan kini ustad Nabih
sedang menyampaikan sambutannya. Aku segera duduk di dekat pintu masuk agar
tidak mengganggu sambutan ustad Nabih.
| Alhamdulillah, satu lagi foto sekeluarga di moment yang patut buat dikenang ini. Thanks for everything :) |
Acara
pembukaan serta pemotongan kue berlangsung dengan cepat. Setelah sesi foto
bersama di depan tabel periodik raksasa yang kami buat dengan susah payah
seharian ini, acara yang kami, para panitia tunggu-tunggu pun akhirnya datang.
Kejutan untuk-untuk orang-orang tersayang di malam yang teduh dan penuh cahaya
rembulan.
Semua
orang menutup matanya dengan kain dan saling berpegangan. Karin dan Pipos
menuntun barisan atomic putri untuk berjalan dan menaiki tangga hingga sampai
di lantai atas gedung, sedangkan barisan atomic putra berjalan sendiri karena
beberapa dari mereka tidak mau menutup matanya. Kami para panitia yang sudah
menyebar di lapangan sudah bersiap menyalakan obor, api unggun, dan lilin yang
memenuhi lapangan malam itu.
| Gedung baru dipenuhi para A7OM |
Setelah semua berhasil dinyalakan, aku bersama
panitia putri sudah berada di tengah lapangan sambil berpegangan tangan. Begitu
juga panitia putra yang berderet di samping kami. Umar dan Sepur sudah memegang
obor dan botol minyak tanah, bersiap untuk menyemburkan api disaat mereka
membuka mata.
Dari
atas, Oji yang berdiri tanpa penutup mata mulai berhitung. Dan pada hitungan
ke-3, Oji pun berteriak dengan kencang,
“Buka penutup matanya!”
Umar
dan Sepur mulai menyemburkan api dari mulutnya seperti atraksi-atraksi sirkus
yang biasa dipertunjukan. Semua berdecak kagum. Gelapnya malam itu tersulap
sudah menjadi gemerlap dihiasi obor obor yang mengelilingi lapangan dan
membentuk jalan menuju ke api unggun di tengah lapangan. Ditambah lagi dengan
lilin lilin kecil yang berada tepat di bawah gedung berbaris membentuk kata
“ATOMIC 7”. Aku sungguh terharu melihat kebahagiaan yang terpancar dari
teman-temanku di atas sana.
| Saatnya kejutan untuk orang-orang tersayang. |
Aku yang masih bergandengan tangan di tengah
lapangan tak mampu lagi menahan bendungan air mata yang sedari tadi masih bisa
ku tahan. Angin malam berhembus meniupkan salam kebanggaan kami menjadi bagian
dari Atomic. Kami berteriak dari bawah,
“Kami sayang atomic..”
Hening
sejenak. Terdengar isakan tangis dari beberapa teman-temanku yang berada di
atas sana. Hingga beberapa saat berlalu dan terdengar teriakan lain dari sisi
gedung bagian kiri dimana atomic putra berdiri menyaksikan sinar-sinar obor
dari atas gedung,
“Kami sayang nian sama atomic..”
Balas mereka.
Lagi,
kami tak mampu membendung. Air mata kebahagiaan mengalir begitu saja seperti
sungai gersang yang seketika terisi air dalam sekejap. Kami berpelukan. Umar
dan Sepur, bahkan Ihsan, semakin bersemangat menyemburkan api. Sedangkan yang
lainnya melambai-lambai dengan obor yang dipegangnya.
| ATOMIC 7 |
Setelah
mengucapkan kalimat yang belum pernah terdengar sebelumnya, beberapa berlarian
menuruni tangga dan bergabung bersama kami. Senyum, canda, bahkan tawa
kebahagiaan mulai bertebaran malam itu. Menambah indahnya malam disinari
rembulan. Kami berlarian, bernyanyi, berpelukan, berfoto ria, mengitari api
unggun yang menyala dengan terangnya.
Malam
semakin larut. Berbagai penampilan persembahan dari anak-anak angkatan begitu
meramaikan suasana malam itu, belum lagi video berdurasi cukup panjang yang
berisi banyak hal tentang atomic dan ucapan untuk Atomic dari beberapa bule
yang kami temui selama study tour bulan juni lalu. Kejutan selanjutnya, ucapan
selamat ulang tahun dari Nabil dan Husna yang turut membuat malam itu menjadi
malam tak terlupakan. Mereka bagian dari kami yang hilang sebelum berperang.
Malam yang indah pun ditutup dengan menerbangkan lampion ke langit malam dengan
bersama-sama.
| Lampion berhasil diterbangkan dan mengudara bersama gemerlapnya malam itu. |
Bukan
hanya lapangan gelap dan gersang yang terasa bercahaya malam itu, tapi juga
langit malam yang tak kalah indahnya dengan gemerlap lampion yang mengudara
memenuhi angkasa. Bukan tentang mala mini atau juga banyaknya kejutan, tapi
malam itu kami sama-sama menyadari bahwa kami sama-sama jatuh cinta. Jatuh yang
benar-benar jatuh, pada Atomic. Angkatan ke-7 Man Insan Cendekia Jambi. Dalam
satu malam, hati kami terasa semakin menyatu.
| Secarik kertas, terlantunkan dalam alunan gitar dan melodi. Menambah riuhnya malam dengan hadirnya Night Changes dan Perawan atau Janda. |