Bukan Pilihan Terakhir
created by. Alin Maulani
Tak sengaja
tanganku bergerak begitu cepat membanting pintu dengan keras. Aku tersadar. Aku
tak ingin melakukannya. Hatiku memberontak, begitu juga tangisku yang terus
mengalir tanpa henti. Sungguh aku kecewa. Aku terlalu banyak menaruh harapan padanya
dan kini aku tau apa yang terjadi padaku. Aku terbungkam dalam histeris yang
tertahan.
Khayalanku
terbang melintasi ruang waktu. Ya, kejadian itu terjadi hampir 3 tahun silam.
Saat aku masih dilanda kegelisahan yang sangat karena kegagalanku masuk ke SMA
yang menjadi keinginanku. Aku sudah mencapai tahap akhir, 2 tahap sebelumnya
aku lolos. Tinggal tes psikotest, tes keagamaan, dan yang terakhir harus ku
lalui adalah tes fisik. Ini yang agak sedikit membuatku tak percaya diri. Tapi
keinginanku kuat, ditambah lagi kakak ku yang pertama adalah lulusan dari
sekolah yang ku dambakan ini. Aku memantapkan hatiku.
Sebenernya
ini bukan sekolah yang benar-benar ku inginkan. Terlalu banyak perdebatan
akhirnya membuatku mengalah dan memilih sekolah yang tak jauh dari rumahku ini
hanya karena satu alasan, boarding
school. Selain itu, sekolah ini diperuntukkan bagi putra-putri daerah yang
mempunyai kemampuan akademik lebih, dengan beasiswa penuh bagi siapapun yang
berhasil lolos. Tentu saja persaingan sangatlah ketat dan itu membuatku harus
belajar lebih giat.
Aku
selalu ingin melanjutkan sekolah ke luar daerah. Orang tuaku hampir menyetujui
dengan syarat harus ada keluarga yang mendampingiku. Beberapa pilihan pun
dilontarkan, Lampung, Jakarta, Bandung, atau Jogja. Setidaknya itu lebih baik.
Tapi apa daya, ayahku tak juga luluh. Akhirnya, satu-satunya alternative yang
bisa ku ambil adalah SMA boarding ini.
Sayangnya, hatiku hancur saat harapan mulai tumbuh. Aku sudah pada tahap akhir
dan seseorang yang mempunyai kuasa lebih menggeser tempatku sehingga namaku
yang seharusnya tercantum, menghilang seketika. Ah, inilah Indonesia.
Sehabis
Koran itu ku terima dan ku baca pengumuman yang membuatku tidak beranjak dari
kamar seharian, orang tuaku berusaha membujukku agar tetap mengikuti tes dan
menunggu pengumuman di salah satu sekolah bergengsi di Indonesia. Bahkan lebih
dari sekolah yang saat ini membuat hatiku patah. Aku meragukan diri. Bagaimana
mungkin, aku yang tidak lolos di sekolah unggulan bertaraf regional seperti ini
bisa masuk ke sekolah yang bertaraf nasional dengan persaingan seluruh
Indonesia. Di tengah tangisku yang pecah dan membuat mataku bengkak, umi ku
berkata,
“Umi yakin alin masuk ke IC,
Insyaa Allah keyakinan umi kuat.”
Aku tak mau
berharap lebih. Selagi menunggu pengumuman IC, aku juga menunggu pengumuman
sekolah lain sudah ku ikuti seleksinya. Sekolah ini pilihan orang tuaku, aku
sama sekali tak berkeingin di sini. Aku mengalah dan tetap mengikuti tes masuk ke MAN unggulan di
kotaku ini. Waktu itu, penerimaan jalur unggulan untuk kelas unggulan sudah
dibuka. Semua berkas telah diurus sekolahku dan aku mengikuti tes sesuai
keinginan orang tuaku. Alhamdulillah, aku lulus tes.
Pengumuman IC masih harus ku tunggu, walaupun
aku tak mau banyak berharap. Selama itu juga aku dilanda kegalauan. Waktu
penutupan daftar ulang untuk kelas unggulan hampir ditutup. Sampai pagi di hari
terakhir daftar ulang, aku masih menangis di kamarku. Jelas saja, ini bukan
sekolah pilihanku. Aku tak pernah berpikir sekolah di sana. Beberapa kali orang
tuaku mengetuk pintu kamar dan mengajakku. Tak juga ku hiraukan.
Matahari
semakin naik, hari semakin siang dan aku masih tak berkutik. Aku seperti tak
punya lagi tujuan. Rasanya aku tidak mau kemanapun. Kota ini bukan tujuan sekolahku
untuk saat itu. Tiba-tiba pamanku datang, seorang yang terkenal bijak di
keluargaku. Mau tidak mau, aku harus keluar demi menghargainya. Ku lihat jam di
dinding ruang tamu, menunjukkan pukul 11.30 WIB, jam 14.00 daftar ulang
ditutup. Setelah berbicara panjang lebar, aku luluh dan bergegas dengan pergi.
Nasehat yang panjang akhirnya ku terima, dengan syarat ini hanya cadangan dan
pamanku akan tetap mencarikanku sekolah di luar kota sambil menunggu pengumuman
IC di bulan Mei.
Hari
itu pun datang. Teman-teman sekolahku yang juga mendaftar di IC sudah mulai
sibuk membuka website pendaftaran. Ku matikan hp-ku sejak pagi. Mereka pasti
akan bertanya padaku bagaimana hasilnya dan sampai pagi itu, aku sudah sama
sekali tak berminat membuka pengumuman. Tidak ada lagi harapan, pikirku. Orang
tuaku yang juga mengetahui hari itu adalah hari pengumuman IC sudah memaksaku
untuk membuka pengumumannya. Aku beralasan, “Jam segini mah masih susah log In, kan
banyak yang akses,” Kataku pada mereka yang terus mendesak.
Hingga
sore hari, aku masih bersikeras tidak ingin membuka pengumuman. Orang tuaku
kembali bertanya dan aku memutar otak mencari alasan lain,
“Kuotanya kan abis, mi. Kalau buka di hp ribet,”
Sahutku dari dalam kamar.
“Yaudah ini umi ke counter ya, mau pulsa yang berapa buat
kouta?” Tanya Umi.
Kali
ini aku tak bisa lagi mengelak. Aku menjawab seadanya. Umi pun pergi
meninggalkanku yang masih berusaha mencari alasan lain. Sambil menunggu Umi,
akhirnya aku menyalakan hp-ku yang seharian ini ku biarkan teronggok di meja
tanpa ku sentuh. Aku hanya penasaran bagaimana hasil teman-temanku. Benar saja,
baru beberapa menit aku mengaktifkan hp, sms
dan pemberitahuan telpon tak terjawab datang beruntun. Cukup membuat hp-ku
nge-lag sesaat karena banyaknya
pesan yang masuk.
Lin, gimana? Fina masuk, loh.
Kira-kira
seperti itulah salah satu pesannya. Beberapa menit kemudian, hp-ku berbunyi.
Panggilan masuk. Dari teman dekatku yang juga mendaftar di IC.
“Woii, lo kemana aja seharian gue
telponin? Sengaja ya lo matiin?” Aku hanya terkekeh dibalik telpon.
“Udah buka belom? Gue dari pagi
udah nyoba baru bisa siang tadi, gue gak lolos.”
“Tuh, kan. Untung gue gak minat
buka tadi pagi, kalau tadi pagi gue buka udah jamuran kali nunggu log in. lagian gue juga gak ada kuota,
ka.”
“Yaudah sini gue bukain, lagian
elo mah sengaja, kan? Anak-anak nyariin lo dari tadi, tinggal elo doing yang
gak ada kabarnya.”
Setelah
menolak tawaran temanku yang berbaik hati, aku menutup telpon dengan
perbincangan yang cukup panjang. Belum 5 menit aku mengutak-atik hp sambil
membuka pesan-pesan yang tadi ku biarkan, hp-ku berdering kembali. Kali ini
dari guru BK yang mengurusiku dari mulai tes di CM, MAN, sampai IC, bu
Futuhiyat, atau biasa disapa bu Put. Dia juga yang tidak mengizinkanku ketika
aku mengundurkanku untuk ikut tes IC, padahal ada salah satu temanku dari 7
paralel peringkat di sekolah yang mengundurkan diri.
“Assalamu’alaikum, Alin. Daritadi
ibu telpon kok gak aktif ya? Gimana hasilnya? Alhamdulillah Fina masuk.”
“Wa’alaikumsalam, bu, seharian
tadi hpnya dimatiin. Alhamdulillah Alin udh denger kabar Fina keterima. Tapi Alin belum buka akunnya, bu.”
“Kenapa? Duhh, padahal ibu udah
nungguin kabarnya sama guru guru yang lain.”
Aku
jadi merasa tidak enak dengan bu Put yang selama ini berjuang untukku agar
tetap mau ikut tes IC. Setelah mengatakan bahwa aku akan memberitahu secepatnya
setelah aku membuka pengumumannya, aku pun mengakhiri percakapan. Ku letakkan
hp ku kembali. Aku tak lagi ingin menyentuhnya.
Baru saja aku
merebahkan tubuhku di kasur, nada dering hp-ku kembali melantun. Sebuah
panggilan masuk dari temanku yang sedari tadi disebut namanya,
“Lin, gimana? Fina masuk,”
Katanya dengan nada tak bersemangat.
“Alhamdulillah, pin. Ciee jadi
anak IC.” Godaku.
“Tapi kalau gak ada temennya Fina
gak bakal ngambil, apalagi Fina dapetnya di IC Jambi. Jauh banget, sendirian
lagi.”
“Gakpapa, Pin. Kan jadi banyak
pengalaman. Alin aja pengen sekolah ke luar Serang gak bisa.”
“Emang gimana pengumumannya? Udah
dibuka?”
“Belum, sih. Gak bakal masuk
juga, ngapain dibuka lagi.”
Lagi,
Fina menawarkan diri untuk membuka akunku jika aku bersedia.
“Tapi gak usah kasih tau hasilnya
ya, udah tau kok gak masuk. Pokoknya pura-pura gaktau aja,” Kataku sebelum
menutup telpon dan memberikan username dan
password.
Aku
tidak lagi menunggu dan penasaran bagaimana hasil pengumumannya. Aku sudah
memutuskan, mungkin jalanku memang harus menetap di sini. Menemani umi dan
ayah, juga adikku, selagi kedua kakakku berkuliah di luar kota.
Suara
hp-ku membuyarkan lamunanku. Ahh, kenapa tidak aku silent saja tadi. Kulihat layar hp-ku. Fina lagi. Aku mengalah.
Kalau bukan Fina, aku tidak akan mengangkatnya.
“Lin, Alin? Alin nemenin Fina,
Alin diterima juga di IC Jambi!” Katanya setengah berteriak bahkan sebelum
mengucapkan salam.
Aku
terdiam. Lelucon macam apa ini. Di saat hatiku sudah kebas dan membeku. Aku
mengelak sebisa mungkin dan Fina terus berusaha meyakinkanku. Aku meloncat dari
kasur dan ku biarkan hp-ku tergeletak. Aku berlari keluar kamar. Kakak dan
adikku sedang menonton TV di ruang tengah, sedangkan ayahku di dalam kamarnya.
“Teh, Alin keterima di IC!”
Kataku sambil memperlihatkan gigi-gigiku yang terbilang rapi.
Ayahku
keluar dari kamarnya setelah mendengarku dengan samar-samar. Ku ingat betapa
ayahku masih bersikeras tidak mengizinkanku untuk sekolah selain di Serang.
“Yah, Alin mau sekolah yang jauh,
tapi kali ini ayah udah gak bisa ngelarang lagi, pokoknya harus diizinin.”
Sahutku sambil berdiri di depan ayahku yang kebingungan.
“Lah emang mau sekolah kemana?
Kan udah di MAN 2, gak usahlah jauh jauh.”
“Alin mau ke Jambi, Yah. Alin
udah keterima di IC, tapi IC Jambi.”
Ayahku
terdiam. Sedikit bingung mungkin. Tapi ku lihat kegembiraan di wajahnya. Ya,
MAN Insan Cendekia adalah sekolah yang menjadi ke dambaan kedua orang tuaku,
walaupun yang mereka maksud adalah MAN Insan Cendekia Serpong yang tak jauh
dari tempatku.
![]() |
| Gedung MAN IC Jambi saat pertama kali ku injakkan kaki di sini |
Tak
lama kemudian, umi datang. Aku bersiap memberikan kabar ini padanya. Dengan
terburu-buru ia menyuruhku segera membuka websitenya. Saat itu, aku benar-benar
merasa berada di dalam mimpi. Doa kedua orang tuaku terkabul. Saat itu juga,
umi bersujud syukur sambil menitikkan air mata.
Ah,
sudah lama sekali rasanya kejadian itu berada di belakangku. Waktu berjalan
amat cepat dan di sini aku sekarang. Menjadi seorang siswi MAN Insan Cendekia
Jambi tidak semudah yang dibayangkan. Perjuangan di sini benar-benar
melelahkan, dan akhirnya aku hampir sampai di akhir perjalanan. Beberapa bulan
lagi aku akan melangkah pergi meninggalkan tempat yang mungkin tak pernah ku
jejakkan kakiku jika bukan karena sekolah ini.
![]() |
| MOS |
![]() |
| Kelas baru, Kawan baru. Welcome to OXIGEN! |


