Thursday, January 28, 2016

SATU MALAM KITA

Created by. Alin Maulani
  Aku kembali termenung. Langit senja kini terlihat bagai panorama yang sulit dilukiskan. Guratan cahaya mentari yang bersiap kembali ke peraduannya menuntunku pada kenangan yang akan aku ciptakan di sini. Aku belum juga beranjak saat teman-teman menyapaku. Perasaan bersalah masih saja menghantui di sisa soreku. Terbayang wajah-wajah kecewa saat pengumuman itu ku lontarkan, terus saja terlintas dalam benakku. Ayolah, aku tak ingin lagi ada kekecewaan. Cukup sudah tahun lalu ku buat kesahalan yang membuatku terus bergelayut dalam keresahan.
  Tahun ini memang tahun terakhirku di negeri antah berantah yang jauh dari tempat pertamaku membuka mata untuk mengenal dunia. Aku terdampar. Hingga datang beberapa sosok makhluk yang menarik tanganku dari kesepian yang terus mengikuti langkah kakiku. Ketika sesak itu datang, mereka memberikan ku kehangatan untuk tetap bernafas dan menggandeng lenganku untuk terus bersama mereka. Wajar saja di acara kali ini, aku ingin membuat sesuatu yang membuat mereka tersenyum bahagia walaupun aku selalu tau apapun yang ku lakukan tak akan bisa menggantikan setiap waktu yang mereka berikan.
  Hari mulai berganti. Kertas putih tanpa coretan dihadapanku kini mulai berisi tulisan. Konsumsi dan dekorasi mungkin akan membutuhkan lebih banyak dana. Otakku terus berputar agar nominal tidak terlalu besar dan memberatkan teman-temanku. Rp. 20.000,00 dari 118 orang aku rasa cukup untuk membuat acara ini menjadi acara yang tak semegah Prom Night di sekolah-sekolah luar, cukup untuk satu malam yang akan ku buat tak akan terlupakan.
  Berkali-kali aku dan beberapa temanku yang ditugaskan mempersiapkan acara ini berkumpul. Kami mulai menyusun acara. Setelah perdebatan panjang lebar, akhirnya kami mempersiapkan acara yang sederhana. Dimulai dengan membaca surat Yasin, berdo’a bersama, makan-makan, hingga hiburan di malam harinya. Hari sabtu adalah hari yang pada akhirnya kami pilih.
  Waktu semakin dekat menuju hari istimewa. Teman-temanku mulai mempersiapkan diri. Diam-diam aku selalu berdoa di akhir sujudku semoga acara ini membuat hati kami semakin menyatu. Namun, jalan tidak selalu mulus. Perdebatan di mulai kembali. Akram yang tadinya kami harapkan untuk datang, ternyata tidak bisa untuk hadir. Bahkan semua sosial media yang membuat kami dapat menghubunginya tak bisa lagi diandalkan. Begitu kecewa kedua orang tuanya hingga Akram tak diizinkan berada di tengah-tengah kami walaupun hanya dalam satu malam. Dua hari lagi acara akan diadakan. Semakin hari aku semakin resah memikirkan acara ini. Surat izin yang bahkan belum ditanda tangani membuatku bertanya terus-menerus pada Dante, mungkin kedatanganku ke kelasnya hampir setiap membuatnya terganggu. Kami berpasrah dengan segala upaya.
  Hari yang dinantikan akhirnya tiba. Setelah hari senin lalu seluruh rakyat Indonesia merayakan hari kemerdekaan yang ke 70, kami pun merayakannya pada hari ini. Beberapa perlombaan diadakan. Setelah senam seperti biasanya, aku berkumpul bersama teman-teman kelasku. 12 ipa 3 untuk pembagian lomba. Aku yang pada hari itu mengenakan baju necromancer mendapat salah satu bagian dari estafet. Aku harus berjalan dengan penutup mata dan Kania akan menuntunku agar tidak menabrak botol-botol di hadapanku. Setelah menghadapi beberapa tantangan, akhirnya kelasku berada di posisi kedua setelah Nurul memecahkan balon dengan gigi berbehelnya di ronde pertama ini.
  Aku mencari Hasbi untuk memulai dekorasi ruangan malam nanti di kelasku. Kami sengaja memilih tiga kelas yang berderet untuk serangkaian acara ulang tahun atomic sekaligus syukuran kelas 12 ini. Kelas 12 ipa 1 akan digunakan untuk tempat kami menyimpan segala konsumsi dan peralatab, kelas 12 ipa 2 untuk acara yasinan dan doa bersama di sore hari, dan kelas 12 ipa 3 untuk acara pembukaan di malam harinya.
  Aku memasuki ruang kelas bersama Nurul dan Pipos, tapi tidak ada Hasbi juga Mitha. Hanya ada Dante dan Umar yang sedang menonton di lantai ruang kelas. Barang-barang berserakan di lantai. Peralatan dekorasi, lilin, obor, bahkan kursi dan meja pun tak lagi tersusun rapi. Aku memutuskan untuk mulai meniup balon bersama Pipos, Umar, dan Dante. Sedangkan Nurul dan Mitha yang baru saja datang dan bergabung dengan kami, mulai menulis nama-nama bagian dari Atomic di karton yang telah kami potong semalam untuk disusun menjadi tabel periodik yang berisi 118 unsur, sama dengan jumlah Atomic.
  Senja mulai merendah. Waktu tak bisa berhenti sejenak dan membiarkan kami berlarian dengan peluh untuk menyelesaikan dekorasi di ruangan dan lapangan. Adzan ashar sudah berlalu sedari tadi, kami masih berkutat dengan lumuran lem dan cat air. Bahkan diluar sana Umar, Sepur, dan Ihsan masih sibuk menyiapkan obor yang akan digunakan malam nanti. Dante mulai sibuk menyiapkan acara sore ini. Sayup-sayup terdengar langkah kaki keramaian, kami bergantian mengintip di jendela. Di sana sudah berbaris kelas 12 putri dengan rapinya mengenakan baju angkatan yang pertama kali dikenakan. 
  Dari dalam ruangan, aku dan teman-temanku yang lain hanya memandang penuh haru. Ah, andai saja kami berada di tengah-tengah mereka, dengan wajah penuh keceriaan, dan tawa yang tak lagi getir. Tapi sayang, kami masih harus tertahan di dalam ruangan untuk acara pembukaan dan inti malam nanti. Hanya perasaan bangga yang kami rasakan hanya dengan melihatnya. Bahkan di acara yasinan dan doa bersama sore ini pun pak Mashuri sedia untuk datang dan ikut menyantap makanan kantin alakadarnya yang telah disulap menjadi nasi tumpeng oleh Mak Yun dan Ma’ruf.
  Aku baru saja akan kembali ke asrama untuk mandi dan berganti baju saat acara malam akan segera dimulai. Kami baru saja menyelesaikan segala dekorasi termasuk kejutan malam itu setelah anak-anak angkatan sudah berada di sana. Rasanya hampir saja aku dan Nurul ingin menangis melihat mereka sudah datang dan kami masih menyusun lilin kecil di rerumputan yang tadinya akan kami jadikan kejutan setelah mereka menutup mata dan berada di lantai atas gedung ini. Hanya aku dan Nurul yang waktu itu masih terlihat kotor dan berantakan diantara teman-teman kami yang lain. Kami pun bergegas kembali ke asrama.
  Setelah mandi dan mengenakan pakaian yang sama dengan anak-anak atomic yang lain, aku, Nurul, dan Iip yang ikut juga kembali ke asrama berlarian ke ruangan tempat acaranya diadakan karena rasanya kami tak ingin tertinggal sedikitpun acara ini. Namun, sesampainya di sana, acara sudah dimulai dan kini ustad Nabih sedang menyampaikan sambutannya. Aku segera duduk di dekat pintu masuk agar tidak mengganggu sambutan ustad Nabih.

Alhamdulillah, satu lagi foto sekeluarga di moment yang patut buat dikenang ini.
Thanks for everything :)
  Acara pembukaan serta pemotongan kue berlangsung dengan cepat. Setelah sesi foto bersama di depan tabel periodik raksasa yang kami buat dengan susah payah seharian ini, acara yang kami, para panitia tunggu-tunggu pun akhirnya datang. Kejutan untuk-untuk orang-orang tersayang di malam yang teduh dan penuh cahaya rembulan.
  Semua orang menutup matanya dengan kain dan saling berpegangan. Karin dan Pipos menuntun barisan atomic putri untuk berjalan dan menaiki tangga hingga sampai di lantai atas gedung, sedangkan barisan atomic putra berjalan sendiri karena beberapa dari mereka tidak mau menutup matanya. Kami para panitia yang sudah menyebar di lapangan sudah bersiap menyalakan obor, api unggun, dan lilin yang memenuhi lapangan malam itu. 

Gedung baru dipenuhi para A7OM 
  Setelah semua berhasil dinyalakan, aku bersama panitia putri sudah berada di tengah lapangan sambil berpegangan tangan. Begitu juga panitia putra yang berderet di samping kami. Umar dan Sepur sudah memegang obor dan botol minyak tanah, bersiap untuk menyemburkan api disaat mereka membuka mata.
  Dari atas, Oji yang berdiri tanpa penutup mata mulai berhitung. Dan pada hitungan ke-3, Oji pun berteriak dengan kencang,
“Buka penutup matanya!”
   Umar dan Sepur mulai menyemburkan api dari mulutnya seperti atraksi-atraksi sirkus yang biasa dipertunjukan. Semua berdecak kagum. Gelapnya malam itu tersulap sudah menjadi gemerlap dihiasi obor obor yang mengelilingi lapangan dan membentuk jalan menuju ke api unggun di tengah lapangan. Ditambah lagi dengan lilin lilin kecil yang berada tepat di bawah gedung berbaris membentuk kata “ATOMIC 7”. Aku sungguh terharu melihat kebahagiaan yang terpancar dari teman-temanku di atas sana. 

Saatnya kejutan untuk orang-orang tersayang.

Aku yang masih bergandengan tangan di tengah lapangan tak mampu lagi menahan bendungan air mata yang sedari tadi masih bisa ku tahan. Angin malam berhembus meniupkan salam kebanggaan kami menjadi bagian dari Atomic. Kami berteriak dari bawah,
“Kami sayang atomic..”
  Hening sejenak. Terdengar isakan tangis dari beberapa teman-temanku yang berada di atas sana. Hingga beberapa saat berlalu dan terdengar teriakan lain dari sisi gedung bagian kiri dimana atomic putra berdiri menyaksikan sinar-sinar obor dari atas gedung,
“Kami sayang nian sama atomic..” Balas mereka.
  Lagi, kami tak mampu membendung. Air mata kebahagiaan mengalir begitu saja seperti sungai gersang yang seketika terisi air dalam sekejap. Kami berpelukan. Umar dan Sepur, bahkan Ihsan, semakin bersemangat menyemburkan api. Sedangkan yang lainnya melambai-lambai dengan obor yang dipegangnya.

ATOMIC 7 

 Setelah mengucapkan kalimat yang belum pernah terdengar sebelumnya, beberapa berlarian menuruni tangga dan bergabung bersama kami. Senyum, canda, bahkan tawa kebahagiaan mulai bertebaran malam itu. Menambah indahnya malam disinari rembulan. Kami berlarian, bernyanyi, berpelukan, berfoto ria, mengitari api unggun yang menyala dengan terangnya.
 Malam semakin larut. Berbagai penampilan persembahan dari anak-anak angkatan begitu meramaikan suasana malam itu, belum lagi video berdurasi cukup panjang yang berisi banyak hal tentang atomic dan ucapan untuk Atomic dari beberapa bule yang kami temui selama study tour bulan juni lalu. Kejutan selanjutnya, ucapan selamat ulang tahun dari Nabil dan Husna yang turut membuat malam itu menjadi malam tak terlupakan. Mereka bagian dari kami yang hilang sebelum berperang. Malam yang indah pun ditutup dengan menerbangkan lampion ke langit malam dengan bersama-sama.

Lampion berhasil diterbangkan dan mengudara bersama gemerlapnya malam itu.

  
 Bukan hanya lapangan gelap dan gersang yang terasa bercahaya malam itu, tapi juga langit malam yang tak kalah indahnya dengan gemerlap lampion yang mengudara memenuhi angkasa. Bukan tentang mala mini atau juga banyaknya kejutan, tapi malam itu kami sama-sama menyadari bahwa kami sama-sama jatuh cinta. Jatuh yang benar-benar jatuh, pada Atomic. Angkatan ke-7 Man Insan Cendekia Jambi. Dalam satu malam, hati kami terasa semakin menyatu. 

Secarik kertas, terlantunkan dalam alunan gitar dan melodi. Menambah riuhnya malam
dengan hadirnya Night Changes dan Perawan atau Janda.

0 comments:

Post a Comment