Tuesday, February 9, 2016

Bukan Pilihan Terakhir

created by. Alin Maulani

Brak…
   Tak sengaja tanganku bergerak begitu cepat membanting pintu dengan keras. Aku tersadar. Aku tak ingin melakukannya. Hatiku memberontak, begitu juga tangisku yang terus mengalir tanpa henti. Sungguh aku kecewa. Aku terlalu banyak menaruh harapan padanya dan kini aku tau apa yang terjadi padaku. Aku terbungkam dalam histeris yang tertahan.
  Khayalanku terbang melintasi ruang waktu. Ya, kejadian itu terjadi hampir 3 tahun silam. Saat aku masih dilanda kegelisahan yang sangat karena kegagalanku masuk ke SMA yang menjadi keinginanku. Aku sudah mencapai tahap akhir, 2 tahap sebelumnya aku lolos. Tinggal tes psikotest, tes keagamaan, dan yang terakhir harus ku lalui adalah tes fisik. Ini yang agak sedikit membuatku tak percaya diri. Tapi keinginanku kuat, ditambah lagi kakak ku yang pertama adalah lulusan dari sekolah yang ku dambakan ini. Aku memantapkan hatiku.
  Sebenernya ini bukan sekolah yang benar-benar ku inginkan. Terlalu banyak perdebatan akhirnya membuatku mengalah dan memilih sekolah yang tak jauh dari rumahku ini hanya karena satu alasan, boarding school. Selain itu, sekolah ini diperuntukkan bagi putra-putri daerah yang mempunyai kemampuan akademik lebih, dengan beasiswa penuh bagi siapapun yang berhasil lolos. Tentu saja persaingan sangatlah ketat dan itu membuatku harus belajar lebih giat.
  Aku selalu ingin melanjutkan sekolah ke luar daerah. Orang tuaku hampir menyetujui dengan syarat harus ada keluarga yang mendampingiku. Beberapa pilihan pun dilontarkan, Lampung, Jakarta, Bandung, atau Jogja. Setidaknya itu lebih baik. Tapi apa daya, ayahku tak juga luluh. Akhirnya, satu-satunya alternative yang bisa ku ambil adalah SMA boarding ini. Sayangnya, hatiku hancur saat harapan mulai tumbuh. Aku sudah pada tahap akhir dan seseorang yang mempunyai kuasa lebih menggeser tempatku sehingga namaku yang seharusnya tercantum, menghilang seketika. Ah, inilah Indonesia.
  Sehabis Koran itu ku terima dan ku baca pengumuman yang membuatku tidak beranjak dari kamar seharian, orang tuaku berusaha membujukku agar tetap mengikuti tes dan menunggu pengumuman di salah satu sekolah bergengsi di Indonesia. Bahkan lebih dari sekolah yang saat ini membuat hatiku patah. Aku meragukan diri. Bagaimana mungkin, aku yang tidak lolos di sekolah unggulan bertaraf regional seperti ini bisa masuk ke sekolah yang bertaraf nasional dengan persaingan seluruh Indonesia. Di tengah tangisku yang pecah dan membuat mataku bengkak, umi ku berkata,
“Umi yakin alin masuk ke IC, Insyaa Allah keyakinan umi kuat.” 
  Aku tak mau berharap lebih. Selagi menunggu pengumuman IC, aku juga menunggu pengumuman sekolah lain sudah ku ikuti seleksinya. Sekolah ini pilihan orang tuaku, aku sama sekali tak berkeingin di sini. Aku mengalah dan  tetap mengikuti tes masuk ke MAN unggulan di kotaku ini. Waktu itu, penerimaan jalur unggulan untuk kelas unggulan sudah dibuka. Semua berkas telah diurus sekolahku dan aku mengikuti tes sesuai keinginan orang tuaku. Alhamdulillah, aku lulus tes.
  Pengumuman IC masih harus ku tunggu, walaupun aku tak mau banyak berharap. Selama itu juga aku dilanda kegalauan. Waktu penutupan daftar ulang untuk kelas unggulan hampir ditutup. Sampai pagi di hari terakhir daftar ulang, aku masih menangis di kamarku. Jelas saja, ini bukan sekolah pilihanku. Aku tak pernah berpikir sekolah di sana. Beberapa kali orang tuaku mengetuk pintu kamar dan mengajakku. Tak juga ku hiraukan.
  Matahari semakin naik, hari semakin siang dan aku masih tak berkutik. Aku seperti tak punya lagi tujuan. Rasanya aku tidak mau kemanapun. Kota ini bukan tujuan sekolahku untuk saat itu. Tiba-tiba pamanku datang, seorang yang terkenal bijak di keluargaku. Mau tidak mau, aku harus keluar demi menghargainya. Ku lihat jam di dinding ruang tamu, menunjukkan pukul 11.30 WIB, jam 14.00 daftar ulang ditutup. Setelah berbicara panjang lebar, aku luluh dan bergegas dengan pergi. Nasehat yang panjang akhirnya ku terima, dengan syarat ini hanya cadangan dan pamanku akan tetap mencarikanku sekolah di luar kota sambil menunggu pengumuman IC di bulan Mei.
 Hari itu pun datang. Teman-teman sekolahku yang juga mendaftar di IC sudah mulai sibuk membuka website pendaftaran. Ku matikan hp-ku sejak pagi. Mereka pasti akan bertanya padaku bagaimana hasilnya dan sampai pagi itu, aku sudah sama sekali tak berminat membuka pengumuman. Tidak ada lagi harapan, pikirku. Orang tuaku yang juga mengetahui hari itu adalah hari pengumuman IC sudah memaksaku untuk membuka pengumumannya. Aku beralasan, “Jam segini mah masih susah log In, kan banyak yang akses,” Kataku pada mereka yang terus mendesak.
  Hingga sore hari, aku masih bersikeras tidak ingin membuka pengumuman. Orang tuaku kembali bertanya dan aku memutar otak mencari alasan lain,
“Kuotanya kan abis, mi. Kalau buka di hp ribet,” Sahutku dari dalam kamar.
“Yaudah ini umi ke counter ya, mau pulsa yang berapa buat kouta?” Tanya Umi.
  Kali ini aku tak bisa lagi mengelak. Aku menjawab seadanya. Umi pun pergi meninggalkanku yang masih berusaha mencari alasan lain. Sambil menunggu Umi, akhirnya aku menyalakan hp-ku yang seharian ini ku biarkan teronggok di meja tanpa ku sentuh. Aku hanya penasaran bagaimana hasil teman-temanku. Benar saja, baru beberapa menit aku mengaktifkan hp, sms dan pemberitahuan telpon tak terjawab datang beruntun. Cukup membuat hp-ku nge-lag ­sesaat karena banyaknya pesan yang masuk.
                Lin, gimana? Fina masuk, loh.
  Kira-kira seperti itulah salah satu pesannya. Beberapa menit kemudian, hp-ku berbunyi. Panggilan masuk. Dari teman dekatku yang juga mendaftar di IC.
“Woii, lo kemana aja seharian gue telponin? Sengaja ya lo matiin?” Aku hanya terkekeh dibalik telpon.
“Udah buka belom? Gue dari pagi udah nyoba baru bisa siang tadi, gue gak lolos.”
“Tuh, kan. Untung gue gak minat buka tadi pagi, kalau tadi pagi gue buka udah jamuran kali nunggu log in. lagian gue juga gak ada kuota, ka.”
“Yaudah sini gue bukain, lagian elo mah sengaja, kan? Anak-anak nyariin lo dari tadi, tinggal elo doing yang gak ada kabarnya.”
  Setelah menolak tawaran temanku yang berbaik hati, aku menutup telpon dengan perbincangan yang cukup panjang. Belum 5 menit aku mengutak-atik hp sambil membuka pesan-pesan yang tadi ku biarkan, hp-ku berdering kembali. Kali ini dari guru BK yang mengurusiku dari mulai tes di CM, MAN, sampai IC, bu Futuhiyat, atau biasa disapa bu Put. Dia juga yang tidak mengizinkanku ketika aku mengundurkanku untuk ikut tes IC, padahal ada salah satu temanku dari 7 paralel peringkat di sekolah yang mengundurkan diri.
“Assalamu’alaikum, Alin. Daritadi ibu telpon kok gak aktif ya? Gimana hasilnya? Alhamdulillah Fina masuk.”
“Wa’alaikumsalam, bu, seharian tadi hpnya dimatiin. Alhamdulillah Alin udh denger kabar Fina keterima.   Tapi Alin belum buka akunnya, bu.”
“Kenapa? Duhh, padahal ibu udah nungguin kabarnya sama guru guru yang lain.”
   Aku jadi merasa tidak enak dengan bu Put yang selama ini berjuang untukku agar tetap mau ikut tes IC. Setelah mengatakan bahwa aku akan memberitahu secepatnya setelah aku membuka pengumumannya, aku pun mengakhiri percakapan. Ku letakkan hp ku kembali. Aku tak lagi ingin menyentuhnya.
  Baru saja aku merebahkan tubuhku di kasur, nada dering hp-ku kembali melantun. Sebuah panggilan masuk dari temanku yang sedari tadi disebut namanya,
“Lin, gimana? Fina masuk,” Katanya dengan nada tak bersemangat.
“Alhamdulillah, pin. Ciee jadi anak IC.” Godaku.
“Tapi kalau gak ada temennya Fina gak bakal ngambil, apalagi Fina dapetnya di IC Jambi. Jauh banget, sendirian lagi.”
“Gakpapa, Pin. Kan jadi banyak pengalaman. Alin aja pengen sekolah ke luar Serang gak bisa.”
“Emang gimana pengumumannya? Udah dibuka?”
“Belum, sih. Gak bakal masuk juga, ngapain dibuka lagi.”
    Lagi, Fina menawarkan diri untuk membuka akunku jika aku bersedia.
“Tapi gak usah kasih tau hasilnya ya, udah tau kok gak masuk. Pokoknya pura-pura gaktau aja,” Kataku sebelum menutup telpon dan memberikan username dan password.
  Aku tidak lagi menunggu dan penasaran bagaimana hasil pengumumannya. Aku sudah memutuskan, mungkin jalanku memang harus menetap di sini. Menemani umi dan ayah, juga adikku, selagi kedua kakakku berkuliah di luar kota.
     Suara hp-ku membuyarkan lamunanku. Ahh, kenapa tidak aku silent saja tadi. Kulihat layar hp-ku. Fina lagi. Aku mengalah. Kalau bukan Fina, aku tidak akan mengangkatnya.
“Lin, Alin? Alin nemenin Fina, Alin diterima juga di IC Jambi!” Katanya setengah berteriak bahkan sebelum mengucapkan salam.
     Aku terdiam. Lelucon macam apa ini. Di saat hatiku sudah kebas dan membeku. Aku mengelak sebisa mungkin dan Fina terus berusaha meyakinkanku. Aku meloncat dari kasur dan ku biarkan hp-ku tergeletak. Aku berlari keluar kamar. Kakak dan adikku sedang menonton TV di ruang tengah, sedangkan ayahku di dalam kamarnya.
“Teh, Alin keterima di IC!” Kataku sambil memperlihatkan gigi-gigiku yang terbilang rapi.
      Ayahku keluar dari kamarnya setelah mendengarku dengan samar-samar. Ku ingat betapa ayahku masih bersikeras tidak mengizinkanku untuk sekolah selain di Serang.
“Yah, Alin mau sekolah yang jauh, tapi kali ini ayah udah gak bisa ngelarang lagi, pokoknya harus diizinin.” Sahutku sambil berdiri di depan ayahku yang kebingungan.
“Lah emang mau sekolah kemana? Kan udah di MAN 2, gak usahlah jauh jauh.”
“Alin mau ke Jambi, Yah. Alin udah keterima di IC, tapi IC Jambi.”
   Ayahku terdiam. Sedikit bingung mungkin. Tapi ku lihat kegembiraan di wajahnya. Ya, MAN Insan Cendekia adalah sekolah yang menjadi ke dambaan kedua orang tuaku, walaupun yang mereka maksud adalah MAN Insan Cendekia Serpong yang tak jauh dari tempatku.
Gedung MAN IC Jambi saat pertama kali ku injakkan kaki di sini
   Tak lama kemudian, umi datang. Aku bersiap memberikan kabar ini padanya. Dengan terburu-buru ia menyuruhku segera membuka websitenya. Saat itu, aku benar-benar merasa berada di dalam mimpi. Doa kedua orang tuaku terkabul. Saat itu juga, umi bersujud syukur sambil menitikkan air mata.
  Ah, sudah lama sekali rasanya kejadian itu berada di belakangku. Waktu berjalan amat cepat dan di sini aku sekarang. Menjadi seorang siswi MAN Insan Cendekia Jambi tidak semudah yang dibayangkan. Perjuangan di sini benar-benar melelahkan, dan akhirnya aku hampir sampai di akhir perjalanan. Beberapa bulan lagi aku akan melangkah pergi meninggalkan tempat yang mungkin tak pernah ku jejakkan kakiku jika bukan karena sekolah ini.
MOS 


Kelas baru, Kawan baru.
Welcome to OXIGEN!

0 comments:

Post a Comment